Infobantul’s Blog

melihat bantul dengan telinga

Hingga Februari Dinas KPP temukan 8 kasus flu burung

KP Dinas Kelautan Peternakan dan Perikanan (KPP) kabupaten Bantul menyatakan 8 laporan kasus ayam mati mendadak hingga Februari 2009 positif Afian Influenza atau flu burung. Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas KPP Bantul Sribudoyo mengatakan kesimpulan ini berdasarkan hasil rapid test terhadap sampel ayam yang mati. Selanjutnya Dinas KPP menindaklanjuti hasil rapid test dengan melakukan penyemprotan desinfektan. Sribudoyo mengaku pencegahan penyebaran virus menghadapai kendala berkaitan dengan kebiasaan warga masyarakat yang masih membiarkan ayamnya bebas berkeliaran. Sehingga Sribudoyo berharap terdapat peran serta dari warga masyarakat untuk menekan angka kasus flu burung. Berdasarkan data pada tahun 2007 terdapat 71 kasus flu burung dengan kematian 967 ekor ayam. Sedangkan pada tahun 2008 terdapat 32 kasus flu burung dengan kematian 880 ekor ayam. Namun Sri budoyo mengaku upaya menekan kasus flu burung menghadapi kendala kurangnya persediaan vaksin. Alokasi vaksin flu burung untuk tahun 2008 seluruhnya sudah terserap. Sehingga pada tahun 2009 hanya tersisa vaksin untuk kajian operasional flu burung di 5 kecamatan.

Dibagian lain Sekertaris Daerah kabupaten Bantul Gendut Sudarto meminta kepada Dinas KPP untuk mengajukan anggaran pengadaan vaksin melalui pos dana tak terduga bila kebutuhannya mendesak. Gendut menilai serangan flu burung dapat dikategorikan sebagai bencana sehingga dapat menggunakan pos dana tak terduga. Gendut memperkirakan Dinas KPP belum berkoordinasi dengan bagian anggaran berkaitan dengan pengadaan vaksin flu burung. Gendut menambahkan pemerintah kabupaten Bantul tidak akan memberikan ganti rugi untuk ayam yang mati. (tok)

 

Kasus DB kian turun

KP Jumlah kasus demam berdarah (DB) di Kabupaten Bantul cenderung menurun. Kepala Bidang Penanggulangan Masalah Penyakit Dinas Kesehatan Bantul Maya Sintowati menyebutkan tahun 2007 terdapat 587 kasus dan tahun 2008 turun menjadi 419 kasus. Maya menjelaskan bila membandingkan jumlah kasus pada periode Januari didapatkan angka yang menunjukkan penurunan jumlah kasus DB. Pada Januari 2007 terdapat 66 kasus DB, tahun 2008 turun menjadi 53 kasus dan 2009 turun lagi menjadi 47 kasus. Dari 47 kasus DB selama  Januari 2009 tidak terdapat pasien yang meninggal. Maya menjelaskan keaktifan bapak dan ibu asuh mengajak masyarakat melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) menjadi penyebab penurunan jumlah kasus demam berdarah. Maya menambahkan kasus dominan terdapat di Kecamatan Sewon dan Banguntapan masing-masing 16  dan 10 kasus. Kedua kecamatan tersebut memiliki kepadatan penduduk yang tinggi. Selain itu pada musim penghujan kemunculan nyamuk bertambah karena kondisinya lebih memungkinkan bagi telur nyamuk untuk menetas dibanding saat musim kemarau.

Di bagian lain, terdapat dua pasien DB yang dirawat di RSD Panembahan Senopati hingga Rabu 11 Januari 2009. Jumlah ini turun dibandingkan minggu lalu yang terdapat 2 kasus observasi dan 4 kasus DB. Wakil Direktur Bagian Pelayanan RSD Panembahan Senopati Bantul Gandung Bambang Hermanto mengatakan kondisi kedua pasien tersebut sudah membaik. Salah satu pasien merupakan rujukan dari Puskesmas Imogiri. Gandung menjelaskan ketika angka trombosit pasien di bawah 150 maka harus segera dirawat ke rumah sakit. Bila pertolongan terlambat maka akan berakibat fatal bagi pasien. Gandung menghimbau masyarakat untuk waspada karena berdasar data tahun-tahun sebelumnya pada Bulan Januari dan Februari jumlah penderita DB akan mencapai puncak.

Sementara itu Suprapti, orang tua salah satu pasien mengatakan putranya menderita demam sejak Jumat 6 Februari 2009. Suprapti menjelaskan lingkungan di rumah dan di sekitar rumahnya bersih karena merupakan wilayah perumahan. Suprapti juga belum mendapatkan kabar tetangganya yang menderita DB. Namun Suprapti menambahkan putranya baru saja pulang dari Jakarta. Hingga kini Suprapti belum mengetahui  penyebab putranya menderita DB. (lia)

 

Minyak tanah bersubsidi resmi ditarik Pertamina

KP Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Bantul Yahya menegaskan minyak tanah bersubsidi resmi ditarik oleh Pertamina pada akhir Februari 2009. Yahya menjelaskan pihaknya telah menerima surat pemberitahuan tertulis dari Pertamina tentang penarikan tersebut. Saat ini belum terdapat kepastian pengganti minyak tanah bersubsidi bagi para perajin yang sudah biasa  menggunakannya. Yahya juga belum memperoleh informasi mengenai kemungkinan dikirimnya minyak tanah ungu dari Pertaminan seperti yang terdapat di Kotamadya Yogyakarta. Yahya tidak khawatir penarikan minyak tanah akan menyebabkan jatuhnya usaha kerajinan karena sebagian dari perajin sudah menggunakan bahan bakar lain. Yahya menambahkan pemerintah sudah memiliki solusi dengan menciptakan tungku barbahan bakar kompor gas. Namun harganya masih cukup tinggi sehingga belum didistribusikan kepada masyarakat luas. Yahya menjelaskan gas elpiji memiliki keunggulan temperatur yang lebih tinggi dibandingkan minyak tanah sehingga cocok bagi pembakaran dalam jumlah tinggi seperti keramik.

Sementara itu Hartoyo perajin patung asmat di Dusun Pucung Pendowoharjo Sewon mengaku telah mengganti minyak tanah dengan solar. Hartoyo memerlukan bahan bakar untuk memberikan warna hitam pada patungnya. Menurut Hartoyo tidak terdapat efek samping penggunaan solar terhadap kualitas produk, dia hanya perlu menyesuaikan panas solar untuk menghasilkan warna hitam yang pas. Hartoyo berencana untuk terus menggunakan solar karena minyak tanah semakin sulit didapat dan harganya mencapai 7.500 rupiah per liter. Selain itu penggunaan solar juga tidak memerlukan modifikasi alat tertentu. Hartoyo menambahkan di Dusun Pucung terdapat sembilan perajin patung primitif yang masih aktif berproduksi. (lia)

 

Dipertahut mulai beli kotoran ternak

KP Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dipertahut) Bantul mulai membeli kotoran sapi dari kelompok ternak di Kecamatan Sanden, Srandakan dan Bambanglipuro sejak Desember 2008. Kepala Dipertahut Bantul Edy Suharyanto menjelaskan pihaknya telah membeli 30 ton kotoran sapi kering dengan harga 200 rupiah per kilogram. Selanjutnya kotoran sapi dicampur dengan tetes tebu dari Pabrik Gula Madukismo untuk dijadikan pupuk organik di pabrik pupuk milik Dipertahut yang beroperasi di Kecamatan Sanden.

Dibagian laian tanto warga Plembengan Sumbermulyo Bambanglipuro mengaku masih menjual kotoran sapi ke pedagang dari luar daerah. Tanto mengaku pedagang biasa membeli kotoran sapi dengan harga sekitar 100 ribu rupiah untuk satu truk penuh. Tanto mengaku harga jual ini tergantung kesepakatan antara pedagang dan pemilik sapi. Tanto mengaku yang penting kotoran sapi tidak menumpuk dan mengganggu lingkungan. Terjual dengan harga berapapun tidak menjadi masalah. (tok)

 

Februari 13, 2009 - Posted by | Info Harian

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: