Infobantul’s Blog

melihat bantul dengan telinga

Harga bibit bawang capai Rp16.000 per kilogram

21 Februari 2009

Kp Memasuki masa tanam bawang merah harga benih mencapai 16 ribu rupiah perkilogram untuk varietas biru dan 15 ribu rupiah untuk varietas tiron. Japon pedagang benih bawang merah di Kretek menilai harga benih di Bantul jauh lebih mahal dibanding daerah lain seperti brebes yang hanya mencapai 10 ribu rupiah perkilogram. Walau demikian japon mengaku tidak dapat mengambil keuntungan dari selisih harga ini. sebab benih dari brebes tidak cocok ditanam di Bantul. Japon memperkirakan harga relatif stabil hingga puncak masa tanam sekitar akhir februari 2009. Bila terjadi kenaikan hanya mencapai 1000 hingga 1,500 rupiah perkilogram. Hingga jum’at siang Japon mengaku sudah menjual sekitar 20 ton benih. Namun japon mengaku masih dapat memenuhi permintaan benih dari petani. Sebab tidak terdapat permintaan benih dari luar daerah. Japon mengaku tidak membatasi jumlah pembelian benih.

Dibagian lain Suroto petani bawang merah di soge srigading Sanden mengaku tidak mengalami kesulitan untuk memperoleh benih. Berdasarkan informasi masih terdapat persediaan benih mencapai 40 ton di gudang bawang merah. Suroto menilai dengan harga benih mencapai 17 ribu rupiah perkilogram petani masih dapat menikmati keuntungan bila produktifitas mencapai 10 ton perhektar dan harga jual diatas 3 ribu rupiah perkilogram. Suroto mengaku tidak terdapat kendala pada musim tanam kali ini. selain distribusi pupuk dan pengairan yang lancar petani juga sudah mengambil langkah antisipasi terhadap banjir dengan memperdalam lubang diantara bangketan. Suroto menambahkan petani membeli benih secara kontan.

Sementara itu saat dihubungi melalui telepon Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Bantul Edi Suharyanto menegaskan persediaan benih untuk masa tanam kali ini cukup aman. Selain benih milik pemerintah kabupaten Bantul di gudang bawang merah soge sebagian petani juga masih memiliki benih simpanan hasil panen masa tanam sebelumnya. Edi menambahkan pada masa tanam kali ini luas arela tanaman bawang merah di Bantul mencapai 600 hektar. (tok)

 

Harga gula pasir tembus Rp7.500 per kilogram

KP Harga gula di Pasar Bantul mengalami dua kali kenaikan selama dua minggu terakhir. Wikan salah satu pedagang sembako di Pasar Bantul mengatakan sebelumnya harga gula pasir berkisar pada 6.500 rupiah per kilogram. Kemudian naik menjadi 7.000 rupiah per kilogram dan hingga Jumat 20 Februari 2009 harga gula pasir sudah mencapai 7.500 per kilogram. Wikan menambahkan kenaikan harga gula pasir menyebabkan kenaikan harga jenis gula yang lain seperti gula jawa dan gula batu. Bahkan harga bahan-bahan makanan yang mengandung unsur gula seperti selai dan sirup juga mengalami kenaikan.

Di sisi lain kenaikan harga gula pasir menyebabkan kenaikan biaya produksi pembuatan roti dan kue. Yani pengusaha roti basah di Pasar Bantul mengaku tidak mengurangi komposisi kandungan roti yang dibuat meski harga gula naik. Dengan harga yang sama ukuran roti juga tidak mengalami penyusutan. Yani mengaku kenaikan biaya produksi tidak menyebabkan penurunan omset sehari-hari karena para pelanggan masih rutin berbelanja di tempat usahanya. Sebagian besar pelanggan adalah pegawai perkantoran dan para pengelola kantin. Hingga kini Yani dapat rutin memproduksi 15 hingga 16 kilogram roti basah per hari.

Di bagian lain Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Bantul Arkansah mengaku belum mengetahui penyebab naiknya harga gula. Arkansah memperkirakan ketersediaan gula minim karena distribusi yang bermasalah. Arkansah menambahkan kenaikan harga gula merupakan fenomena nasional yang tidak hanya terjadi di Bantul. Namun dia mengamati beberapa konsumen di bantul mulai membeli gula pasir dari luar Bantul karena mengira harga di luar daerah lebih murah. (lia)

 

Bakul pasar akan dihubungkan dengan pabrikan

KP Pemerintah Kabupaten Bantul sedang berusaha menghubungkan pedagang pasar langsung dengan pabrik. Bupati Bantul Idham Samawi mengatakan usaha ini bertujuan untuk menekan harga jual pedagang pasar agar dapat bersaing dengan pusat-pusat kulakan di Bantul. Idham menjelaskan para pedagang dapat membeli produk yang lebih murah di pabrik sehingga harga jualnya juga lebih murah. Idham mengatakan pabrik memberikan syarat kulakan dalam jumlah besar dan jaminan pembayaran yang jelas dari para pedagang. Untuk itu Pemerintah Kabupaten Bantul mengusahakan para pedagang untuk bergabung supaya dapat kulakan dalam jumlah besar. Sedangkan jaminan pembelian barang di pabrik menjadi tanggung jawab pemerintah.

Sementara itu Wikan pemilik kios bahan makanan di Pasar bantul mengatakan dirinya sudah terbiasa kulakan di distributor. Wikan mengaku sebagian besar barang daganganya diperoleh melalui distributor. Hanya sebagian kecil dari barang dagangannya yang dibel langsung dari pabrik. Namun Wikan mengaku tidak mendapatkan selisih harga barang yang besar dari distributor maupun pabrik. (lia)

 

Produsen mie lethek butuh suntikan modal

Kp Produsen mie lethek di dusun Bendo Trimurti Srandakan membutuhkan suntikan modal untuk meingkatkan kapasitas produksi. Pemilik pabrik mie lethek Yasir Feri Ismatrada mengaku permintaan mie lethek terutama dari luar daerah masih cukup tinggi. Namun untuk meningkatkan produksi pabriknya masih menghadapi beberapa kendala. selain harga bahan baku tepung tapioka yang terus naik proses pengeringan mie yang sangat bergantung kepada cuaca juga menjadi kendala lain peningkatan produksi. Feri mengaku pernah menggunakan bahan baku local untuk menekan biaya produksi namun kualitas mie menjadi kurang bagua. Penggunaan oven untuk mempecepat proses pengeringan juga pernah dilakukan namun mie justru menjadi keras. Feri menambahkan dengan kapasitas produksi mencapai 950 kilogram mie pabriknya mampu memnuhi kebutuhan konsumen di Bantul dan Yogyakarta.

Feri mengaku sejak tahun 2008 terdapat peluang untuk memperluas pasar ke Jakarta menyusul pesanan khusus dari Departemen Pertanian Republik Indonesia 50 kilogram setiap bulan. Feri menilai pasokan ini sebenarnya kurang sebab berdasarkan informasi kiriman selalu menjadi rebutan. Namun untuk mengirim mi eke Jakarta feri mengaku harus mengeluarkan biaya pengiriman mencapai 2 juta rupiah untuk 1 ton mie lethek. Dengan biaya tambahan ini maka harga mie lethek di Jakarta dapat mencapai 8 ribu rupiah perkilogram jauh lebih mahal disbanding harga di pasar local 6.600 rupiah perkilogram. Sementara dari sisi keawetan tidak terdapat masalah sebab tanpa tambahan pemutih mie lethek mampu bertahan hingga 3 bulan.  Meski banyak menghadapi kendala Namun Feri bertekad mempertahankan usaha warisan orangtuanya yang mampu menghidupi warga masyarakat di sekitarnya. (tok)

Februari 23, 2009 - Posted by | Info Harian |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: