Infobantul’s Blog

melihat bantul dengan telinga

Dewan berharap retribusi diterapkan ke tingkat desa

27 Mei 2009

Kp Sekertaris Pansus 2 DPRD Bantul Jupriyanto berharap pembebasan retribusi pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil diberlakukan hingga ke tingkat desa. Jupri menjelaskan peraturan daerah hanya mengatur pembebasan retribusi di tingkat kabupaten sedangkan di tingkat desa masih terdapat Perdes yang mengatur besarnya retribusi pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil seperti pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Jupri menilai untuk memaksimalkan pemberian kemudahan pelayanan bagi warga masyarakat maka pembebasan retribusi seharusnya diberlakukan hingga ke tingkat desa. Namun sebelumnya pemerintah kabupaten Bantul perlu mencari skema untuk mengganti pendapatan desa yang sebelumnya berasal dari retribusi pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil. Jupri menambahkan anggaran ini dapat dimasukan dalam Alokasi Dana Desa (ADD).

Sementara itu Ketua Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Bantul Jiyono mengaku pemerintah desa siap membebaskan retribusi pendafataran penduduk dan pencatatan sipil selama terdapat alokasi dana pengganti dari pemerintah kabupaten Bantul. Jiyono menilai besarnya Alokasi Dana Desa yang sudah lebih dari 10 persen sebenarnya sudah mengganti pembebasan retribusi. Namun pemerintah desa kembali harus menghitung ulang menyusul keluarnya surat edaran menteri dalam negeri yang mengharuskan pemerintah desa mengganti sumber penghasilan pamong yang sebelumnya dari pelungguh menjadi dari ADD. (tok)

Idham tolak mini market sampai habis masa jabatan

Kp Bupati Bantul Idam Samawi memastikan hingga berakhirnya masa jabatannya pemerintah kabupaten Bantul tidak akan mengeluarkan ijin pendirian minimarket. Idam mengaku langkah ini merupakan bentuk keberpihakan terhadap pedagang pasar tardisional meski beberapa pengusaha minimarket mengancam akan mengajukan dirinya ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTUN). Idam mengaku terakhir menolak pengajuan permohonan ijin pembangunan 5 mini market. Idam mengaku desakan untuk menambah jumlah minimarket juga datang dari kalangan internal pemerintah kabupaten Bantul. Namun melalui perdebatan yang panjang pemerintah kabupaten Bantul tetap tidak akan mengeluarkan ijin pembangunan mini market. (tok)

Gaji ke-13 PNS tidak akan dipotong

Kp Pemerintah kabupaten Bantul memastikan tidak terdapat potongan untuk pemberian gaji ke-13 pada awal Juni 2009. Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Abudzarin Norhadi mengatakan pemberian gaji ke-13 bertujuan memberikan keringanan bagi PNS untuk membayar biaya pendidikan putra-putrinya maka tidakl dikenakan potongan. Berdasarkan data seluruh PNS di lingkungan pemerintah kabupaten Bantul dan DPRD akan menerima gaji ke-13 termasuk Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Pemerintah kabupaten Bantul sudah menyediakan anggaran mencapai 40 milyar rupiah untuk pemberian gaji ke-13 ini. Abu menambahkan meski Dana Alokasi Umum (DAU) kabupaten Bantul mengalami penurunan mencapai 14 milyar rupiah namun pemberian gaji justru mengalami kenaikan. (tok)

Tiga tahun setelah gempa bumi 27 Mei 2006

Masih banyak warga trauma

Sunarjo, warga Dusun Ngembu Panjangrejo Pundong hingga kini masih menggunakan alat bantu jalan akibat pahanya patah saat gempa bumi 27 Mei 2006

Sunarjo, warga Dusun Ngembu Panjangrejo Pundong hingga kini masih menggunakan alat bantu jalan akibat pahanya patah saat gempa bumi 27 Mei 2006

KP Tiga tahun berlalu setelah gempa bumi terjadi di Bantul 27 Mei 2006 silam, masih banyak warga yang trauma maupun belum sembuh dari sakit akibat gempa. Salah satunya Tumiyarsih, warga Dusun Gabusan Timbulharjo Sewon, yang sehari-hari masih tidur di tenda depan rumahnya. Tumiyarsih mengatakan saat gempa terjadi reruntuhan bangunan rumah menjatuhi kepalanya hingga berdarah dan pingsan. Akibatnya Tumiyarsih hingga kini takut tidur di dalam rumah karena khawatir terjadi gempa lagi. Tenda di depan rumahnya terdiri dari dua ruangan diantaranya kamar tidur dan dapur. Kamar tidur terbuat dari triplek dan memiliki atap seng, sedangkan dapur dibuat dari gedek. Tumiyarsih hanya tinggal berdua dengan ayahnya. Ibu dan suaminya sudah meninggal, sedangkan tiga putranya sudah menikah dan tinggal terpisah. Meski mengalami luka saat gempa, kini Tumiyarsih sudah pulih dan rutin bekerja berjualan daging ayam di Pasar Bantul.

Tidak jauh dari rumah Tumiyarsih, Parto Wiyono yang juga warga Dusun Gabusan Timbulharjo Sewon masih tinggal di tenda seadanya di atas pondasi rumahnya yang sudah roboh akibat gempa. Parto Wiyono mengaku mendapatkan bantuan senilai 15 juta rupiah untuk membangun rumahnya namun pembangunan tidak selesai. Parto menjelaskan pada awalnya dia memperoleh bantuan lima juta rupiah. Dia gunakan bantuan tersebut untuk membangun dapur dan kamar seadanya bagi putra bungsunya yang masih tinggal bersamanya. Bantuan selanjutnya cair senilai empat juta rupiah dia gunakan untuk menyelesaikan bangunan dapur dan kamar putranya serta untuk membeli besi-besi rangka bangunan. Sisanya senilai enam juta rupiah turun di kemudian hari. Parto menjelaskan saat itu para tetangganya sudah selesai memperbaiki rumah masing-masing. Uang senilai enam juta rupiah tersebut digunakan untuk memperbaiki dapur dan kamar putranya, dan sisanya digunakan untuk membangun tenda dari triplek di depan bangunan dapur. Sehari-hari Parto tinggal di tenda tersebut.

Di tempat lain tepatnya di Dusun Ngembu Panjangrejo Pundong, Sunarjo 60 tahun masih harus berjalan menggunakan alat bantu karena pahanya yang patah akibat gempa belum juga pulih. Sunarjo menjelaskan sebelum gempa terjadi, dia sudah mengalami patah tulang karena jatuh dari pohon kelapa. Setelah tiga kali operasi di RS Sarjito, dia diperbolehkan pulang ke rumah. Baru semalam dia berada di rumah, keesokan harinya terjadi gempa yang merobohkan rumahnya. Sunarjo tertimpa reruntuhan dan pahanya kembali patah. Dia mendapatkan bantuan pen dari sebuah yayasan dan beberapa waktu lalu pen tersebut sudah dilepas. Namun pahanya tidak dapat pulih seperti sedia kala karena bengkok. Hingga kini Sunarjo tidak dapat bekerja lagi dan harus selalu menggunakan alat bantu jalan saat beraktifitas. (lia)

Pencak silat semakin berkembang

KP Olah raga pencak silat semakin bagus perkembangannya di Bantul. Marto Harjono, 87 tahun, pelatih di Sanggar Pencak Silat Persatuan Hati Gabusan Timbulharjo Sewon mengatakan saat ini anak-anak yang masih duduk di bangku SD sudah mulai mempelajari pencak silat. Marto mengatakan saat dia masih muda, anak-anak baru tertarik dengan pencak silat setelah menduduki bangku SMP. Marto menambahkan indikasi juga ditunjukkan dengan adanya aneka perlombaan bela diri yang mulai digelar di tingkat SD. Marto menyebutkan terdapat tiga unsur yang terkandung dalam pencak silat diantaranya olah raga, bela diri dan demonstrasi. Gaya hidup berolah raga yang mulai dicari orang-orang masa kini turut mendukung perkembangan pencak silat. Marto menambahkan dirinya masih diberi umur hingga 87 tahun juga berkat rajin berolah raga melalui pencak silat. Marto pernah maju mewakili daerah pada PON tahun 1957 dan dari Sanggar Persatuan Hati juga pernah mengirimkan dua peserta pencak silat dalam Sea Games. (lia)

Mei 30, 2009 - Posted by | Info Harian |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: