Infobantul’s Blog

melihat bantul dengan telinga

Empat Raperda Bantul ditolak

7 Juli 2009

Kp Menteri Dalam Negeri akan membatalkan 4 Peraturan Daerah kabupaten Bantul dengan berbagai alasan. Pernyataan ini muncul dalam pemandangan umum fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menanggapi pengajuan 7 Raperda dalam rapat paripurna DPRD Bantul senin siang. Juru bicara fraksi PKS Agus Sumartono mengatakan khusus untuk Perda Nomor 4 Tahun 2002 tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan di RSD Panembahan Senopati akan dibatalkan karena tidak terdapat tarif secara definitif. Hal ini perlu disampaikan mengingat salah satu Raperda yang diajukan eksekutif tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan di Puskesmas yang juga tidak mencantumkan tarif secara definitif. Sementara 3 perda lainnya masing-masing Retribusi usaha perbengkelan dan Retribusi wisata alam serta retribusi wisata khusus dibatalkan karena dikhawatirkan terjadi pungutan ganda.

Ditemui seusai rapat paripurna Kepala Bagian Hukum Setda Bantul Suarman mengakui terdapatnya Perda kabupaten Bantul yang akan dibatalkan. Namun Suarman mengaku belum mengetahui secara pasti jumlah serta jenisnya. Karena belum terdapat pemberitahuan secara resmi. Suarman menjelaskan pembatalan perda yang berkaitan dengan pajak dan retribusi terjadi di seluruh indonesia. Berdasarkan informasi dari Dirjen Pajak Perda yang dibatalkan ini tidak sesuai dengan peraturan. Khusus untuk DIY pembatalan Perda terbanyak untuk kabupaten Sleman disusul kabupaten Kulon Progo kemudian Bantul.

Sementara itu Sekertaris Daerah Bantul Gendut Sudarto menilai pembatalan perda sebagai hal yang wajar bila memang ternyata tidak sesuai. Namun berdasarkan pencermatan Gendut menilai tidak terdapat Perda kabupaten Bantul yang merugikan warga masyarakat. Gendut menambahkan setiap pembatalan Perda tentu harus melalui kajian di Mahkamah Konstitusi. Setelah terdapat kepastian pembatalan akan terdapat pemberitahuan melalui Menteri Dalam Negeri lalu Gubernur baru ke pemerintah kabupaten Bantul. (tok)

KPU segera tindaklanjuti permasalahan DPT

KP KPU Bantul segera menindaklanjuti temuan permasalahan daftar pemilih tetap (DPT) pilpres yang ditemukan Panwaslu Kabupaten Bantul. Anggota KPU Bantul Nurudin Latif menjelaskan pihaknya tidak akan mencoret nama warga yang sudah meninggal, pindah tempat memilih maupun nama ganda. Namun Latif menegaskan KPU tidak memberikan undangan bagi warga yang bersangkutan. Lebih lanjut Latif menjelaskan bagi warga meninggal dunia setelah tanggal 28 Mei KPU tetap memberikan undangan memilih karena perubahan data terjadi setelah penetapan DPT yaitu tanggal 28 Mei. Khusus bagi warga yang pindah tempat memilih namun tidak mengurus kartu A7 di kelurahan asalanya, KPU tetap memberinya undangan memilih di tempat asal. Latif menambahkan bagi warga yang namanya tertulis ganda, hanya diberikan satu undangan saja. Namun bila dari hasil pendataan ulang KPU terdapat perbedaan huruf nama tersebut, undangan tetap berlaku untuk dua orang. Latif menambahkan DPT yang ada saat ini sudah mutlak dan tidak dapat diubah. KPU sudah memutakhirkan data tersebut sebanyak empat kali sebelum penetapan DPT yaitu melalui kepala RT, petugas pemutakhiran data pemilih (PPDP), petugas KPPS dan panitia pemungutan suara (PPS).

Sebelumnya Panwaslu Bantul telah mengumumkan kekeliruan DPT dari hasil penyisiran DPT yang dilakukan Pnawaslu bulan Mei lalu. Anggota Panwaslu Bantul Herlina menjelaskan Panwascam menyisir tempat pemungutan suara (TPS) secara acak yaitu satu atau dua TPS per kelurahan. Dari hasil tersebut diperoleh adanya data warga yang sudah meninggal dunia, nama ganda dan anggota TNI/Polri terdaftar di sebagian besar TPS. Bahkan di Desa Patalan Jetis yang penyisirannya dilakukan di seluruh TPS sebanyak 34 TPS, Panwaslu menerima laporan adanya 141 warga meninggal dunia, 38 nama ganda dan 6 anggota TNI/Polri masih terdaftar. Berdasar temuan tersebut Herlina menilai kinerja sebagian PPDP masih kurang maksimal. Namun Herlina menambahkan Panwaslu juga menemukan adanya perbedaan data yang dimiliki petugas PPDP dengan DPT yang dikeluarkan KPU. Khusus kasus tersebut Herlina menyimpulkan kesalahan bukan pada PPDP melainkan pada pemasukan data. (lia)

Kualitas RSBI dipertanyakan

Kp Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPRD Bantul mempertanyakan kualitas Sekolah Rintisan Berstandar Internasional (RSBI). Melalui Juru bicaranya Atmaji fraksi PAN menilai belum terdapat bukti yang jelas siswa RSBI lebih berkualitas dibanding ssiwa sekolah reguler. Kondisi ini tentu memunculkan tanda tanya dikalangan wali murid yang harus mengeluarkan biaya lebih bagi anaknya untuk dapat mengikuti pendidikan di RSBI. Bertolak dari kondisi ini Fraksi PAN berharap terdapat sosialisasi bagi wali murid sebelum membukan program RSBI. Sosialisasi melipti input dan output dari program RSBI.

Menanggapi pertanyaan ini Kepala Dinas Pendidikan Dasar Bantul Sahari mengatakan bukti secara nyata memang belum dapat dilihat karena program RSBI baru memasuki tahun kedua sehingga belum terdapat output siswa. Namun dari prestasi keseharian dapat dilihat bahwa siswa-siswi RSBI lebih banyak meraih prestasi dibanding peserta didik sekolah reguler. Sahari menambahkan bukti yang lebih pasti dapat dilihat dari hasil audit Badan Nasional Standar Pendidikan (BNSP). Selama hasil audit tidak memenuhi 8 kriteria yang ditetapkan maka BNSP akan mencabut predikat RSBI. (tok)

Jumlah tanaman singkong terus turun

KP Jumlah tanaman singkong di Bantul cenderung menurun karena rendahnya nilai tukar singkong pasca panen. Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dipertahut) Bantul Edy Suharyanto menyebutkan pada tahun 2007 singkong ditanam di lahan yang luasnya kurang lebih 2.700 hektar dengan produktivitas mencapai 16,7 ton per hektar. Tahun 2008 luas lahan turun menjadi 2.500 hektar, demikian juga produktivitas turun menjadi 11,4 ton per hektar. Edy menambahkan total produksi singkong juga menurun dari 46 ribu ton pada tahun 2007 menjadi 29 ribu ton pada tahun 2008. Edy mengatakan para petani enggan menanam singkong karena nilai tukarnya rendah dan lebih memilih tanaman palawija lain yang nilai tukarnya lebih tinggi seperti jagung, kedelai dan kacang tanah. Edy menjelaskan pemerintah tidak dapat mendobrak nilai tukar singkong karena bukan makanan sehari-hari maupun komoditas yang secara luas dipilih petani. Namun pemerintah menyarankan para petani supaya menjual singkong yang sudah diolah sehingga nilai tukarnya naik. Berbagai olahan singkong yang dapat dikembangkan petani diantaranya gatot, tiwul dan keripik.

Di bagian lain Sakinah salah satu pengusaha gatot tiwul di Dusun Wonolopo Canden Jetis mengaku kesulitan memperoleh bahan baku singkong di Bantul. Sakinah mengambil singkong dari Gunungkidul untuk mengembangkan usahanya. Terutama bila singkong sedang tidak musim, Sakinah mengaku harus berebut dengan pengusaha sejenis dalam mendapatkan singkong. (lia)

Membunuh, suami-istri divonis

KP Suami-istri, Kuwat dan Tugilah, warga Guwosari Pajangan divonis hukuman penjara oleh Majelis Hakim Agus Tumekso, Marliyus dan Eka dalam persidangan di PN Bantul Senin siang karena terbukti melakukan pembunuhan berencana. Terdakwa Kuwat divonis hukuman penjara 15 tahun, sedangkan terdakwa Tugilah divonis hukuman penjara 8 tahun. Vonis tersebut lebih ringan daripada tuntutan jaksa penuntut umum selama seumur hidup. Kejadian bermula ketika Kuwat dan Tugilah berboncengan sepeda onthel ke rumah korban, Jarkasi. Sesampainya di dekat rumah Jarkasi, mereka berpura-pura ban sepedanya bocor dan meminjam pompa milik korban. Kedua terdakwa kemudian dipersilakan masuk ke dalam rumah dan disuguhi minuman oleh korban. Bahkan korban juga menunjukkan koin-koin emas yang dimilikinya kepada keduanya karena kedua terdakwa mengaku dapat menjualkannya. Korban juga sempat memotret emas tersebut supaya fotonya dapat ditunjukkan kepada calon pembeli. Saat korban terlena, terdakwa Kuwat memukul korban menggunakan linggis hingga terjatuh dan tewas. Dalam persidangan kedua terdakwa mengaku telah merencanakan perampasan emas tersebut. Mereka sebelumnya sudah mendengar bahwa korban berhasil mencuri koin emas yang harga jualnya cukup tinggi. (lia)

Pintu dicongkel, laptop hilang

KP Warsi Dwi Ponang pemilik salah satu rumah di perum Harmoni Pondok Permata Ngestiharjo Kasihan harus rela kehilangan laptop, jam tangan dan emas perhiasan karena rumahnya disatroni maling saat sedang ditinggal pergi. Minggu sore korban pulang ke rumahnya dan mendapati pintu utama rumah sudah terbuka, diduga akibat pencongkelan. Saat memasuki rumah, keadaan di dalamnya sudah berantakan. Korban kemudian mendapati laptop, jam tangan dan sejumlah emas perhiasannya hilang. Sekitar pukul 7 malam, korban melaporkannya ke Polres Bantul. Kerugian yang diderita korban diperkirakan mencapai 50 juta rupiah. (lia)

Juli 7, 2009 - Posted by | Info Harian |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: