Infobantul’s Blog

melihat bantul dengan telinga

RSD Panembahan Senopati akan terima dua suspek flu babi

16 Juli 2009

Kp Rumah Sakit Daerah Panembahan Senopati akan menerima 2 pasien suspect flu babi untuk dirawat di ruang isolasi. Direktur RSD Panembahan Senopati I Wayan Sudane mengatakan berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan propinsi DIY terdapat 2 pasien suspect flu babi dari kabupaten Gunung Kidul yang akan dirawat di RSD Panembahan Senopati. Wayan menjelaskan 2 pasien suspect flu babai ini akan dirawat di RSD Panembahan Senopati karena ruang isolasi RSUP dr Sarjito penuh. Sebagai rumah sakit rujukan kedua maka RSD Panembahan Senopati menjadi alternatif berikutnya bila rumah sakit rujukan pertama penuh. Berkaitan dengan informasi ini RSD Panembahan Senopati sudah mempersiapkan ruang isolasi yang dulu disipakan untuk pasien suspect flu burung. Wayah menjelaskan selain ruang isolasi pihaknya juga menyiapkan tim dokter yang khusus menangani pasien suspect flu babi. Wayan menambahkan tim dokter terdiri dari 5 dokter yang berjaga 24 jam. (tok)

 

Bantul perlu pertahankan surplus beras

Kp Peningkatan produksi padi menjadi syarat mutlak bagi kabupaten Bantul untuk tetap mempertahankan surplus beras yang mencapai 30 ribu ton pertahun. Bupati Bantul Idam Samawi menyampaikan pernyataan ini pada peringatan Hari Pangan Sedunia rabu 15 Juli 2009 di bulak code Trirenggo Bantul. Meski saat ini rata-rata produktifitas padi di Bantul mencapai 7,7 ton perhektar dan sudah jauh diatas rata-rata nasional sekitar 6 ton perhektar namun tetap harus ditingkatkan. Peningkatan produksi mutlak dilakukan untuk mengimbangi terus berkurangnya luas lahan pertanian di Bantul. Berdasarkan data rata-rata terjadi pengurangan 60 hektar lahan pertanian di Bantul setiap tahun. Dengan puncak pengurangan tertinggi sekitar 80 hektar pada tahun 2004. Idam menilai bila tidak diimbangi dengan penguasaan teknologi untuk terus meningkatkan produksi,pengurangan luas lahan pertanian dapat mengganggu ketahanan pangan.

Sementara itu dalam sambutannya seusai melakukan panen padi varietas ciherang di bulak code trirenggo Bantul Gubernur DIY Sri Sultan HB X mengatakan untuk mewujudkan ketahanan pangan suatu bangsa tidak boleh bergantung pada bangsa lain dalam pemenuhan pangan bagi rakyatnya. Namun harus mampu mencapai swasembada bahkan menjadi eksportir. Sultan menyadari untuk mencapai tujuan ini tidaklah mudah. Selain membutuhkan dukungan sarana dan ilmu pengetahuan juga harus mewaspadai faktor-faktor yang dapat mengganggu terciptanya ketahanan pangan. Sultan menjelaskan selaian berkurangnya luas lahan pertanian perubahan iklim yang sangat ekstrim akhir-akhir ini juga dapat menjadi faktor terganggunya ketahanan pangan. (tok)

 

Varietas tembakau Kedu Sili dipertahankan

Kp Petani tembakau di selopamioro siap mempertahankan varietas kedu sili sebagai tembakau asli imogiri. Lurah desa Selopamioro Sukronurharjono menyampaikan pernyataan ini sebelum pelaksanaan panen perdana tembakau kedu sili di dusun Kalidadap rabu siang oleh wakil Bupati Sumarno Prs. Saat ini terdapat 16 kelompok tani di desa selopamioro yang mengembangkan varietas kedu sili di lahan seluas 350 hektar. Dengan produksi sekitar 6 ton daun kering perhektar serta harga jual antara 30 hingg 50 ribu perkilogram budidaya tembakau kedu sili mampu menghidupi warga desa selopamioro. Tekad untuk mempertahankan varietas kedu sili ditunjukan dengan pengajuan sertifikasi benih. Dengan mengantongi sertfifikasi benih maka kualitas tembakau kedu sili akan terjaga. Sukro optimis budidaya tembakau kedu sili kedepan akan berkembang menyusul kerjasama dengan perusahaan Rokok PT Taru Martani di bidang pemasaran. Sukro menambahkan kegiatan budidaya tembakau di selopamioro tidak terpengaruh keluarnya Fatwa Haram terhadap Rokok oleh Majelis Ulama Indonesia (tok).

 

Petani mulai mengganti IR64

KP Petani di Bantul mulai mengurangi penanaman padi jenis IR64 dan menggantinya dengan padi jenis lain. Salah satunya petani Bulak Code Trirenggo Bantul yang sudah beralih pada padi Ciherang. Sekretaris Kelompok Tani Code Wakidi mengaku sudah tiga kali musim tanam menanam padi Ciherang bersama anggota kelompok tani lain di lahan seluas 52 hektar. Sebelumnya mereka menanam padi IR64 selama bertahun-tahun. Wakidi menyebutkan keunggulan padi Ciherang diantaranya lebih tahan terhadap hama, mudah dirawat dan hemat pupuk dibandingkan padi IR64. Karena itu petani Bulak Code tertarik untuk melanjutkan penanaman padi Ciherang. Dalam tiga kali masa tanam, Wakidi menjelaskan kelompok tani sudah berhasil meningkatkan produktivitas padi. Pada panen sebelumnya, produktivitas hanya mencapai 8,7 ton per hektar, sedangkan panen saat ini mencapai 9,16 ton per hektar.

Di Bulak lain tepatnya di Bulak Mandingan Ringinharjo Bantul, para petani yang sebelumnya menanam IR64 juga sudah beralih menanam padi varietas Pepe. Kepala Balai Benih Barongan Budi Santoso mengatakan para petani berhasil memanen varietas Pepe dengan produktivitas mencapai 7 ton per hektar. Namun dengan cara tanam baru yang ditemukan petani, disebut Legowo Harjo, produktivitasnya dapat mencapai 8 ton per hektar. Budi menjelaskan cara tanam legowo harjo dilakukan dengan memperdekat jarak tanam menjadi 25 sentimeter kali 8 sentimeter, sedangkan jarak normal mencapai 23 kali 23 sentimeter. Meski jarak tanam semakin dekat, penggunaan benih lebih hemat karena menggunakan system of rice intensification (SRI) dengan menanam satu padi per lobang.

Di bagian lain Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dipertahut) Bantul Edy Suharyanto mengatakan IR64 dinilai sudah terlalu tua dan mulai kehilangan sifat baiknya. Benih ini pertama kali diperkenalkan kepada petani pada tahun 1984 dan sudah ditanam puluhan tahun. Saat ini petani dihimbau menggantinya dengan benih lain yang lebih baik. Edy menambahkan untuk meningkatkan minat petani menanam varietas padi selain IR64 maka pemerintah menyelenggarakan program subsidi benih. Benih baru yang diperkenalkan Balai Benih dalam keadaan sudah bersertifikat adalah varietas Pepe. (lia)

 

Wabub resmikan berbagai fasilitas umum

KP Wakil Bupati Bantul Sumarno meresmikan beberapa fasilitas umum di tiga kecamatan di Bantul Rabu 15 Juli. Salah satu fasilitas umum yang diresmikan tersebut diantaranya Jalan Usaha Tani di Kecamatan Srandakan sepanjang 1.000 meter dan lebarnya 3 meter. Jalan Usaha Tani merupakan akses masuk ke hamparan sawah seluas 60 hektar yang dikelola petani Srandakan. Jalan ini dibangun dengan perkerasan batu menggunakan dana APBN senilai 50 juta rupiah ditambah swadaya warga senilai 110 juta rupiah. Fasilitas umum kedua yang diresmikan yaitu Kantor Desa Sumberagung Bambanglipuro yang dibangun dengan APBD senilai 200 juta rupiah dan swadaya warga senilai 20,95 juta rupiah. Terakhir, Sumarno meresmikan jembatan Lanteng Selopamioro Imogiri yang dibangun dari program pengembangan kecamatan (PPK) dengan dana senilai 140 juta rupiah ditambah swadya warga senilai 11,4 juta rupiah. Lurah Desa Selopamioro Imogir Sukro Nurharjono dalam sambutannya mengucapkan terimakasih atas pembangunan dan peresmian jembatan Lanteng. Sukro menambahkan Pemda Bantul juga memberikan bantuan aspal untuk pembangunan jalan di Desa Selopamioro Imogiri. (lia)

Juli 21, 2009 - Posted by | Info Harian |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: