Infobantul’s Blog

melihat bantul dengan telinga

Tradisi berbuka dengan bubur

Mozaik Ramadahn 30 Agustus 2009

 

Assalamu’alaikum wr wb

Mozaik Ramadhan edisi kali ini akan menghadirkan tradisi menghdiangkan bubur sebagai menu berbuka puasa. Berikut laporan selengkapnya

 

Eh Kp hari ini pengen buka puasa pake apa ya ? dari awal puasa menunya itu-itu terus bosen ah. Oh iya di Masjid Sabilurosyad Kauman Wijirejo Pandak kan menyediakan bubur untuk buka puasa bersama. Kesana ah sekali-kali pengen tuh buka puasa makan bubur. Ayok ah.

 

Waduh datangnya terlalu cepat,buburnya baru dimasak deh,tapi nggak apalah itung-itung sambil lihat proses memasaknya. Tradisi menghidangkan bubur sebagai menu buka puasa sudah dilakukan sejak awal berdirinya masjid sekitar tahun 1800. Proses dimulai dari memasak bubur dan sayur oleh 3 orang pria sekitar pukul 2 siang. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat bubur meliputi beras dan kelapa serta garam. Sedangkan bahan sayurnya meliputi tahu,tempe dan kacang panjang. Menurut kepala Bagian Kesejhteraan Rakyat desa Wijirejo Haryadi takmir tetap berusaha mempertahankan keaslian komposisi bahan-bahan yang digunakan. Walau demikian seiring perkembangan jaman ditambahkan bahan-bahan lain seperti kerupuk rambak dan daging ayam. Namun seluruh bahan yang digunakan tetap berasal dari iuran warga.

 

Sekitar pukul lima bubur beserta lauk sayurnya sudah masak setelah didiamkan sejenak bubur langsung dituangkan ke dalam piring. Dari 3 kilogram beras dapat disajikan menjadi 60 priring. Setelah bedug tanda datangnya waktu maghrib berbunyi jama’ah yang sudah menunggu langsung menyantap bersama-sama bubur yang sudah dihidangkan. Tentu saja didahului dengan berdo’a. Haryadi menjelaskan jama’ah yang turut berbuka puasa tidak terbatas dari wilayah desa Wijirejo. Tidak jarang masyarakat yang kebetulan lewat juga turut berbuka puasa bersama.

 

Setelah turut menyantap bubur aku jadi berpikir kenapa ya kok dulu sesepuh masjid memilih bubur sebagai menu berbuka puasa. Daripada penasaran lebih baik aku tanyakan kepada pak Haryadi.

 

Oh jadi begitu to, aku jadi lebih mantap dalam menyantapnya. Selain rasanya enak aku juga sudah dapat memahami filosofi yang terkandung dalam bubur sepiring bubur ini. Kp juga bertambah pengetahuannya kan. Kalau gitu cukup sampai disini dulu ya jumpa lagi di Mozaik-Mozaik Ramadhan lainnya. Karena saya mau nambah buburnya wasalamu’alaikum wr wb.

Agustus 31, 2009 - Posted by | Uncategorized |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: